|
|
Thee 2
Kamu semakin sibuk mengurus semua persiapan.
Kamu, akan pergi selama satu setengah bulan. Tanpa komunikasi atau berita apapun. Tapi saya malah selalu menuntut perhatian kamu. Dan itu selalu menguji kesabaran kamu. September Kamu pulang. Membawa banyak kisah dari pengalaman. Kamu jadi lebih dewasa. Lebih to-the-point. Kamu bilang saya ga berubah. Masih kekanak-kanakan. Masih egois. Ga pernah memaknai dan belajar dari kesalahan. Kamu marah besar karena kesalahan saya yang terulang. Kita bertengkar hebat. Sampai saya benar-benar patah. Mereka bilang saya 'hampa'. Sering melamun dan banyak diam. Saya pikir bukan karena saya terlalu cinta. Tapi rasa bersalah di hati tak bisa di abaikan. Akhirnya 'kita' kembali menjadi 'saya' dan 'kamu'. Oktober Kamu masih marah sama saya. Saya bingung harus memohon maaf seperti apa lagi. Padahal ini bulan favorit kamu, bulan lahir kamu. Saya sudah merencanakan kejutan untuk kamu. Datang ke rumah bersama beberapa kawan dekat. Kamu, kaget sekali waktu itu. Ketika saya yang berada dibalik pintu dan menyodorkan kue. Tapi senyum tulus kamu berikan. Kamu, yang semenjak marah selalu menganggap saya angin lalu, kini menegur saya. Mengucapkan terima kasih. Saya? Saya terlalu senang untuk mendeskripsikannya. Sore itu, saya dan kamu kembali membaik. Walaupun bertahan tanpa embel-embel 'kita'. Desember Meskipun tidak ada kata resmi terucap, tapi perasaan tak bisa dibohongi. Kamu mulai menarik-ulur hubungan. Dan saya bingung. Lalu, saya yang memilih untuk menjauh. Tapi kamu kembali datang dan meminta maaf. Bertanya apakah ingin seperti dulu. Saya bilang "Ga usah, kita udah mau UN nanti saja setelahnya." Cih. Jawaban anak muda yang sok tau tentang waktu. Saya sadar waktu 'itu' akan datang pada akhirnya. Saya juga sadar, seiring waktu berjalan, kamu dan saya sebenarnya sudah tak berjalan beriringan. Saya pikir, saya harus siap dengan keadaan yang akan menghampiri. Saya, tanpa kamu sadari, bukan lagi orang yang sama seperti beberapa bulan lalu. Februari Saya selalu cinta dengan bulan ini. Ini bulan saya. Bulan kelahiran saya. Ditambah bonus, seharusnya saya dan kamu merayakan dua tahun hari jadi. Tepat sehari sebelum hari ulang tahun saya. Tapi saya kira kamu sudah lupa. Sudah tidak peduli. Jadi, saya tak mengucap satu kata pun ke kamu. Toh kita mestinya memang tidak menjalani hubungan itu lagi. Nyatanya, kamu memberi saya kejutan! Tepat di tanggal 10 kamu datang membawa kue di tempat les. Malam itu, ada tiga lilin tertancap disana. 1, 7 dan 2. Kamu memang merayakan dua tahun hari jadi dan merangkap hari ulang tahun saya yang jatuh esok hari. Oh tak apa. Toh saya senang kamu ternyata, masih 'menganggap' ini hari jadi. Kamu bilang "Maaf saya kasih kue ulang tahunnya sekarang sekalian." "Iya ga apa-apa, saya senang." Kamu mempertegas "Soalnya saya ga mau jadi orang kesekian yang ngucapin ke kamu, jadi duluan begini." Saya tertawa haru. Kamu, ternyata egois lebih dari yang saya kira. Kamu ingin selalu ditempat pertama, bagi saya. Maret April Kamu dan saya semakin jauh. Tidak pernah berkomunikasi lagi. Kamu sibuk dengan urusanmu. Begitupun saya. Kamu cuek. Saya pun. Sampai setelah UN saya dan kamu tak pernah membaik. Dan tetiba suatu malam kamu menghubungi saya. Kamu ingin menjelaskan semua. Saya, sudah terlanjur kesal dan marah sama kamu, menolak untuk bertemu esok. Saya menegaskan bahwa tanpa bertemu pun, saya sudah tau keputusan kamu. Tapi kamu bersikeras, saya mengalah. Kamu bicara tentang masa depan. Saya maunya jalani itu berdua kamu. Tapi tidak begitu dengan kamu. Kamu bilang "Saya ingin lihat dunia." Saya meringis, tertawa. Saya jawab "Ya sudah silahkan, kalau itu kemauan kamu." Inilah saat yang selalu saya antisipasi untuk datang. Ternyata secepat ini. Saya sudah lebih dari siap. Untuk kamu lepas. Kamu tinggal. ![]() |
Disclaimer
![]() Welcome to my site! Enjoy! :) You can have it all. Just not all at once. -Oprah Winfrey Rewind
|