 Thee 3
Friday, October 25, 2013
Ternyata saya masih harus belajar mengikhlas.
Melepas.
Ya, saya memang siap, tapi saya masih dimakan amarah.
Sakit hati.
Kamu semudah itu mengucap pergi.
Padahal dahulu kamu senang mengumbar janji.
Janji untuk tidak pergi.
Ataupun melarang saya untuk dengan mudahnya mengucap 'pisah'.
Meski begitu, saya, yang setelah keputusan itu kamu buat,
pantang untuk menangis.
Menitikkan sedikit pun tidak.
Ego dan harga diri ini terlalu tinggi.
Saya pikir, sudah cukup tangis itu saya berikan ketika saya patah, September lalu.
Tak perlu mengulang polah bodoh yang sama.
Juni
Suatu sore saya dapat kabar kamu sudah bersama gadis lain.
Saya?
Santai.
Kelewat santai malah.
Saya tidak peduli, toh itu bukan urusan saya lagi.
Pada kenyataan nya, saya masih bergejolak.
Saat tidak sengaja membuka social media kamu.
Dan ada foto kamu berdua dengan dia.
Juli
Kamu yang selama ini selalu mengirim pesan ke saya.
Hanya untuk meminta doa untuk masuk ke instansi yang kamu impikan.
Di Semarang.
Saya tak peduli.
Saya, masih sakit hati.
Marah.
Pesan itu selalu berakhir di tombol Delete.
Bahkan sebelum saya baca isinya.
Dan pesan-pesan itu tidak pernah saya balas.
Suatu pagi, kamu mengirim pesan ke saya.
Dua pesan.
Saya melengos.
Saya pikir, "Untuk apa kamu sms saya, di pagi buta, dua kali pula?"
Dan isinya, tentang permintaan maaf kamu untuk semua hal.
Saya sudah berpikiran jelek saat itu.
Kamu tau? Pikiran jelek saya saat itu terbukti.
Ternyata kamu sudah punya gadis baru, iya.
Tapi yang saya tidak sangka, kamu berpacaran tepat dua minggu setelah kita putus.
Sakit hati itu datangnya langsung berlipat-lipat.
Secepat itukah?
Saya ga bisa balas.
Tak ada pulsa dan saya bersyukur.
Tapi siang hari semakin banyak info dari kawan yang harus saya respon.
Akhirnya saya beli pulsa dan membalas sms kamu.
Sebelum saya balas, kamu mengirim lagi sms yang tadi pagi.
Saya pikir, kamu benar-benar butuh balasan.
Tapi menurut saya itu pun hanya formalitas, yah walaupun akhirnya saya balas.
Setelah kejadian itu saya dan kamu tidak pernah berhubungan lagi.
Tidak sampai Desember.
Kamu mengirim pesan ke saya, tengah malam, menanyakan kabar.
Saya, sedang dalam perjalanan ke Jakarta, kaget.
Galau seketika.
Kamu, kenapa kembali?
Kamu tau? Saya masih sakit hati dan belum stabil.
Alhasil kamu mengirim pesan dua kali ke saya.
Saya balas. Pada akhirnya.
Dan menanyakan kembali kabar kamu dan kamu jawab.
Setelahnya? End.
Saya tidak membalas lagi.
Tiga pesan singkat sudah cukup membuat saya galau di perjalanan.
Thanks to you.
Februari
Saya berulang tahun ke-18.
Saya lupa bahwa dulu ada kamu yang memberi saya surprise.
Saya pun benar-benar tidak mengharap ada ucapan dari kamu.
Atau komunikasi dari kamu.
Saya benar-benar sudah lupa.
Bagaimana seorang kamu mengisi Februari saya.
Seminggu setelah hari besar saya, kamu, kembali membuat saya kaget.
Kamu mengirim pesan ke saya dan bilang ingin bicara.
Saya bilang boleh dan kamu pun menghubungi saya.
Kamu beri saya ucapan ulang tahun panjang lebar.
Beserta doa-doanya.
Saya?
Masih kaget dan tak bisa berkata apapun.
Saya dan kamu, terhubung lewat telepon setelah sekian lama.
Saya dan kamu, kaku.
Seperti orang yang tidak pernah saling mengenal.
Seminggu setelahnya kamu menghubungi saya lagi.
Seminggu setelahnya pun.
Begitu terus, seperti kamu mendapat kan kebiasaan lamamu.
Saya bingung lagi dibuatnya.
Saya bingung dengan tingkah kamu yang sudah punya gadis baru.
Tapi masih menghubungi saya.
Maret
Saya memperjelas apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan sekarang.
Mengingat kebiasaan kamu yang selalu menghubungi saya.
Itu berjalan baik.
Walaupun cuma satu bulan setengah.
Dan saya pun lupa kembali.
April
Saya sudah bisa memaafkan kamu.
Akhir April itu tolak ukur saya.
Saya pikir tidak ada salahnya berbuat baik sama kamu.
Toh sudah setahun berlalu.
Saya ga mau jadi seperti kamu.
Menyakiti orang lain.
Juni
Kamu menghubungi saya lagi.
Selama seminggu berturut-turut.
Kamu sedang di Jakarta, makanya bisa bebas menghubungi siapapun.
Saya balas pesan kamu.
Juli
Setiap kamu pesiar, Sabtu-Minggu, menghubungi saya itu sudah jadi kegiatan kamu.
Saya bingung harus ngomong bagaimana soal pacar kamu.
Kamu tetap keras kepala.
Ngeyel.
Agustus
Idul Fitri kamu hanya punya waktu tiga hari di Lampung.
Kamu bilang kamu ingin ketemu saya.
Saya balas, "Nanti kalau kita main ke rumah Ilya insya allah."
Nyatanya jadwal kami satu sama lain, berbeda sama sekali.
Lebaran ketiga, kamu sudah kembali ke Semarang.
Sehari sebelum masuk kuliah, kamu mengaku ke saya.
Kamu, masih belum bisa move on.
Seorang kamu, yang gengsi nya pun tak kalah tinggi.
Kamu, yang dulu dengan gampangnya memutuskan hubungan.
Sekarang, bilang tidak bisa move on.
HA~
Saat itu saya bilang dalam hati;
"Terbukti toh sekarang siapa yang kalah? Siapa yang menghubungi duluan?
Siapa yang belum bisa move on?"
Saya cuma bisa senyum senang, tertawa.
Saya senang, akhirnya kamu mengakui 'kekalahan' kamu.
Dalam kesenagan itu bukan berarti saya terlena.
Saya punya janji ke diri saya sendiri.
September
Kamu entah mengapa meminta saya mendengarkan sebuah lagu.
Didi Kempot - Sewu Kuto
Saya tau lagunya, tapi tidak paham artinya.
Karena saya tidak bisa bahasa Jawa.
Saya searching dan tau artinya.
Saya tanya ke kamu ada apa dengan lagunya.
Kamu masih tidak mau menjelaskan.
Saya langsung bilang "Kamu kangen?"
Kamu dengan tegasnya bilang "Iya saya kangen. Sama kaya yang ada di lagu."
Oktober
Saya dan kamu semakin membaik.
Berteman kembali.
Bulan ini kamu ulang tahun.
Dengan angka terakhir untuk masa belasan tahun.
Kamu pergi ke Bandung untuk liburan Idul Adha.
Kamu tak boleh pulang ke Lampung.
Waktu itu kamu manfaatkan untuk menghubungi saya.
Saya kaget, saat tau kamu ternyata sudah putus dengan gadismu.
Kamu tidak pernah mau mengaku.
Kamu selalu bilang, kalian baik-baik saja.
Saya tau itu dari 'adik' kamu.
Adik kelas saya pun.
Saya bukannya senang.
Tidak.
Tenang, iya. Tapi tidak senang.
Tenang pada akhirnya saya tidak melulu merasa bersalah dengan gadismu.
Karena membalas pesan mu.
Tidak senang, kamu ternyata segampang itu pergi.
Ke gadis yang kamu pacari, dua minggu setelah putus.
Kamu, masih sama.
25.10.13 | back to top
|
 Thee 3
Friday, October 25, 2013
Ternyata saya masih harus belajar mengikhlas.
Melepas.
Ya, saya memang siap, tapi saya masih dimakan amarah.
Sakit hati.
Kamu semudah itu mengucap pergi.
Padahal dahulu kamu senang mengumbar janji.
Janji untuk tidak pergi.
Ataupun melarang saya untuk dengan mudahnya mengucap 'pisah'.
Meski begitu, saya, yang setelah keputusan itu kamu buat,
pantang untuk menangis.
Menitikkan sedikit pun tidak.
Ego dan harga diri ini terlalu tinggi.
Saya pikir, sudah cukup tangis itu saya berikan ketika saya patah, September lalu.
Tak perlu mengulang polah bodoh yang sama.
Juni
Suatu sore saya dapat kabar kamu sudah bersama gadis lain.
Saya?
Santai.
Kelewat santai malah.
Saya tidak peduli, toh itu bukan urusan saya lagi.
Pada kenyataan nya, saya masih bergejolak.
Saat tidak sengaja membuka social media kamu.
Dan ada foto kamu berdua dengan dia.
Juli
Kamu yang selama ini selalu mengirim pesan ke saya.
Hanya untuk meminta doa untuk masuk ke instansi yang kamu impikan.
Di Semarang.
Saya tak peduli.
Saya, masih sakit hati.
Marah.
Pesan itu selalu berakhir di tombol Delete.
Bahkan sebelum saya baca isinya.
Dan pesan-pesan itu tidak pernah saya balas.
Suatu pagi, kamu mengirim pesan ke saya.
Dua pesan.
Saya melengos.
Saya pikir, "Untuk apa kamu sms saya, di pagi buta, dua kali pula?"
Dan isinya, tentang permintaan maaf kamu untuk semua hal.
Saya sudah berpikiran jelek saat itu.
Kamu tau? Pikiran jelek saya saat itu terbukti.
Ternyata kamu sudah punya gadis baru, iya.
Tapi yang saya tidak sangka, kamu berpacaran tepat dua minggu setelah kita putus.
Sakit hati itu datangnya langsung berlipat-lipat.
Secepat itukah?
Saya ga bisa balas.
Tak ada pulsa dan saya bersyukur.
Tapi siang hari semakin banyak info dari kawan yang harus saya respon.
Akhirnya saya beli pulsa dan membalas sms kamu.
Sebelum saya balas, kamu mengirim lagi sms yang tadi pagi.
Saya pikir, kamu benar-benar butuh balasan.
Tapi menurut saya itu pun hanya formalitas, yah walaupun akhirnya saya balas.
Setelah kejadian itu saya dan kamu tidak pernah berhubungan lagi.
Tidak sampai Desember.
Kamu mengirim pesan ke saya, tengah malam, menanyakan kabar.
Saya, sedang dalam perjalanan ke Jakarta, kaget.
Galau seketika.
Kamu, kenapa kembali?
Kamu tau? Saya masih sakit hati dan belum stabil.
Alhasil kamu mengirim pesan dua kali ke saya.
Saya balas. Pada akhirnya.
Dan menanyakan kembali kabar kamu dan kamu jawab.
Setelahnya? End.
Saya tidak membalas lagi.
Tiga pesan singkat sudah cukup membuat saya galau di perjalanan.
Thanks to you.
Februari
Saya berulang tahun ke-18.
Saya lupa bahwa dulu ada kamu yang memberi saya surprise.
Saya pun benar-benar tidak mengharap ada ucapan dari kamu.
Atau komunikasi dari kamu.
Saya benar-benar sudah lupa.
Bagaimana seorang kamu mengisi Februari saya.
Seminggu setelah hari besar saya, kamu, kembali membuat saya kaget.
Kamu mengirim pesan ke saya dan bilang ingin bicara.
Saya bilang boleh dan kamu pun menghubungi saya.
Kamu beri saya ucapan ulang tahun panjang lebar.
Beserta doa-doanya.
Saya?
Masih kaget dan tak bisa berkata apapun.
Saya dan kamu, terhubung lewat telepon setelah sekian lama.
Saya dan kamu, kaku.
Seperti orang yang tidak pernah saling mengenal.
Seminggu setelahnya kamu menghubungi saya lagi.
Seminggu setelahnya pun.
Begitu terus, seperti kamu mendapat kan kebiasaan lamamu.
Saya bingung lagi dibuatnya.
Saya bingung dengan tingkah kamu yang sudah punya gadis baru.
Tapi masih menghubungi saya.
Maret
Saya memperjelas apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan sekarang.
Mengingat kebiasaan kamu yang selalu menghubungi saya.
Itu berjalan baik.
Walaupun cuma satu bulan setengah.
Dan saya pun lupa kembali.
April
Saya sudah bisa memaafkan kamu.
Akhir April itu tolak ukur saya.
Saya pikir tidak ada salahnya berbuat baik sama kamu.
Toh sudah setahun berlalu.
Saya ga mau jadi seperti kamu.
Menyakiti orang lain.
Juni
Kamu menghubungi saya lagi.
Selama seminggu berturut-turut.
Kamu sedang di Jakarta, makanya bisa bebas menghubungi siapapun.
Saya balas pesan kamu.
Juli
Setiap kamu pesiar, Sabtu-Minggu, menghubungi saya itu sudah jadi kegiatan kamu.
Saya bingung harus ngomong bagaimana soal pacar kamu.
Kamu tetap keras kepala.
Ngeyel.
Agustus
Idul Fitri kamu hanya punya waktu tiga hari di Lampung.
Kamu bilang kamu ingin ketemu saya.
Saya balas, "Nanti kalau kita main ke rumah Ilya insya allah."
Nyatanya jadwal kami satu sama lain, berbeda sama sekali.
Lebaran ketiga, kamu sudah kembali ke Semarang.
Sehari sebelum masuk kuliah, kamu mengaku ke saya.
Kamu, masih belum bisa move on.
Seorang kamu, yang gengsi nya pun tak kalah tinggi.
Kamu, yang dulu dengan gampangnya memutuskan hubungan.
Sekarang, bilang tidak bisa move on.
HA~
Saat itu saya bilang dalam hati;
"Terbukti toh sekarang siapa yang kalah? Siapa yang menghubungi duluan?
Siapa yang belum bisa move on?"
Saya cuma bisa senyum senang, tertawa.
Saya senang, akhirnya kamu mengakui 'kekalahan' kamu.
Dalam kesenagan itu bukan berarti saya terlena.
Saya punya janji ke diri saya sendiri.
September
Kamu entah mengapa meminta saya mendengarkan sebuah lagu.
Didi Kempot - Sewu Kuto
Saya tau lagunya, tapi tidak paham artinya.
Karena saya tidak bisa bahasa Jawa.
Saya searching dan tau artinya.
Saya tanya ke kamu ada apa dengan lagunya.
Kamu masih tidak mau menjelaskan.
Saya langsung bilang "Kamu kangen?"
Kamu dengan tegasnya bilang "Iya saya kangen. Sama kaya yang ada di lagu."
Oktober
Saya dan kamu semakin membaik.
Berteman kembali.
Bulan ini kamu ulang tahun.
Dengan angka terakhir untuk masa belasan tahun.
Kamu pergi ke Bandung untuk liburan Idul Adha.
Kamu tak boleh pulang ke Lampung.
Waktu itu kamu manfaatkan untuk menghubungi saya.
Saya kaget, saat tau kamu ternyata sudah putus dengan gadismu.
Kamu tidak pernah mau mengaku.
Kamu selalu bilang, kalian baik-baik saja.
Saya tau itu dari 'adik' kamu.
Adik kelas saya pun.
Saya bukannya senang.
Tidak.
Tenang, iya. Tapi tidak senang.
Tenang pada akhirnya saya tidak melulu merasa bersalah dengan gadismu.
Karena membalas pesan mu.
Tidak senang, kamu ternyata segampang itu pergi.
Ke gadis yang kamu pacari, dua minggu setelah putus.
Kamu, masih sama.
25.10.13 | back to top
|
about the webmistress
Hola I'm NURINA ULFA.
I am a part of FKIP B.ING - UNILA but still PSIKOLOGI - UI jadi tujuan.
love books but heart novel the most, preferably Sitta Karina's writing and swimming always made me feel comfy ?
blog ini bercerita tentang kehidupan gue, yang udah dialami maupun yang masih tersimpan di imajinasi, dan hopefully bisa mewujudkannya amin! and yeah love is TRULY complicated!
|
Friends for sale
sitta karina
hany prima
dian tika
adisti
kak fadhil
selittoes
mba fanie
brotherhood ed 12
sucihpl
yosua permata
|
tagboard
|
about this site
designer: Steff
banner: sweetsugar
|
plug it!
your plugboard code here: get yours at plugme.net
|
Disclaimer

Welcome to my site! Enjoy! :)
You can have it all. Just not all at once. -Oprah Winfrey
Rewind
|